1/1/16

Mereka Bilang Bahagia Itu Sederhana

Beberapa waktu lalu, gua dikasih kesempatan buat ngunjungin saungnya TIS. TIS ini adalah Technique Informal School, salah satu lembaga luar biasa di FTUI yang bergerak di bidang pendidikan untuk anak-anak kurang mampu. Mereka punya saung yang mereka bikin sendiri di tengah-tengah pemukiman pemulung(Karang Pola, Pasar Minggu), di situ mereka ngadain kelas buat anak2 pemulung yang ada di sekitar daerah itu. Selain ngajar baca-tulis, dan mata pelajaran dasar lain, mereka juga ngajarin ilmu keteknikan. Luar biasa bukan? Caranya itu dengan main game yang ada hubungannya sama keilmuan keteknikan. Gua selalu kagum sama mereka, dan udah lama gua mau liat secara langsung semua kegiatannya.

TIS waktu itu kebetulan lagi ngundang IMTK buat kunjungan. Jadi gua langsung meluncur ke sana (tidak secara harfiah). Sebelumnya gua sama sekali gak punya gambaran gimana bentuk saung mereka. Singkat cerita gua turun dari angkot sama anak2 IM di depan pintu masuk ke saung karpol. Begitu turun yang gua lihat bukan rumah dengan atap seng atau asbes sama dinding anyaman dari bambu. Tapi Sevel. Iya sodara-sodara sevel. Tempat nongkrong anak2 yang katanya gaul. Gua jadi curiga karena kebanyakan main sama anak2 TIS anak2 pemulung itu jadi kepikiran buka franchise sevel buat nongkrong2 lucu. Ternyata enggak. Gak berapa lama ada anak TIS yang ngejemput kita ke dalem perumahannya. Dari pintu masuk yang gua lihat adalah perumahan yang bagus, rata2 punya mobil dan motor. Ini pemulungnya mendadak kaya apa gimana ? Ternyata semakin ke dalem keadaan lingkungannya berubah cukup drastis. Dari pagar besi yang tinggi-tinggi menjadi pagar bambu sederhana, dari jalan aspal menjadi tanah setapak, sampah di mana-mana, di situ ada bapak2 tua yang lagi mulung plastik. Gua sapa, beliau sapa balik dengan senyum, wajahnya terlihat lelah. Beberapa menit kemuadian akhirnya gua ada di tengah2 pemukiman pemulung. Sungguh lucu, seakaan baru mengarungi 2 alam yang berbeda. Di tengah2 pemukiman ada bangunan yang cukup baru, tidak terlalu besar, dindingnya terbuat dari triplek dan di dalamnya ada karpet biru dan buku-buku yang ada di atas meja-meja belajar.

Waktu gua dateng ternyata mereka baru selesai kelas. Muridnya cukup banyak, dan setelah tanya2 ke anak TIS sebagian besar dari mereka gak sekolah sama sekali, banyak yang belum bisa baca tulis. Cukup membuat gua berfikir, betapa beruntungnya gua, bisa sekolah, bisa belajar. IMTK waktu itu bikin game buat anak2nya. Sederhana sekali : Telur yang bisa masuk ke botol yang dipanasin dari dalam, sama air dalam plastik yang gak tumpah kalo ditusuk pensil. Dua-duanya hukum fisika sederhana. Tapi anak2nya luar biasa girang. kaya abis menang 1 milyar di who wants to be a millionaire, atau abis menang piala presiden. Bener2 membingungkan. Setelah beberapa lama main-main sama mereka, kita evaluasi dan pulang. Satu hal lain yang menarik bagi gua adalah TIS punya database nilai setiap anak asuh mereka dan setiap minggu selalu dipantau perkembangannya. Gua cuma bisa lebih kagum lagi.

Selama perjalanan pulang, gua masih bingung kenapa mereka bisa sebahagia itu padahal hidup mereka sebegitu gak berpihaknya sama mereka. Sampai suatu waktu gua bisa simpulkan :

 
 
Karena bagi mereka, bahagia itu sederhana. Sesedehana itu.

Semangat terus pejuang TIS ! semoga amal baik kalian dibalas nantinya.

12/24/15

Setengah lima, setengah gila

Liburan semester.

Ya, lagi-lagi gua cuma bisa nulis sewaktu liburan. Padahal gua selalu pengen nulis di sela-sela waktu kuliah. Namun apa daya, saya hanya mahasiswa biasa, yang sibuk sendiri akan urusan kuliah sana-sini. Selalu gak sempet nulis di sini. Ah atau jangan-jangan karena gua yang gak mau menyisihkan waktu ? Memberikan porsi waktu yang jauh lebih banyak buat kuliah daripada urusan lain. Mungkin saja, gua juga gak yakin. Mungkin memberikan sedikit waktu gua buat nulis menjadi lebih mahal seiiring dengan semakin dewasa. Gak asik. Sebentar, memangnya waktu bisa diberikan ? apakah gua punya "waktu" yang bisa gua bagi ? Kalau tidak berarti gua gak bisa memberikan, atau menyisihkan. Jadi apa sebenarnya waktu ? Punya siapa waktu ? Aku pun tak tahu. Yang pasti, waktu tidak berpihak, tidak diberikan, maupun disisihkan untuk gua buat nulis beberapa bulan ke belakang.....tapi apakah waktu bisa berpihak ? apakah ia punya pikiran ? Apakah waktu punya wujud ? Seperti Kronos atau Saturnus, personifikasi waktu dari yunani dan romawi ? Lagi-lagi, tidak ada yang tahu. Kecuali Satu.

Semester lima gua berakhir beberapa hari kemarin. Semakin banyak pengetahuan gua tentang tekim(semoga). Di tengah-tengah semester lima gua kemarin gua benar-benar lelah. Entah kenapa, capek luar biasa, macem abis marathon di gurun sahara, atau kaya ngangkat atlit angkat besi sama beban bebannya. Setengah gila. Ya, setiap orang pasti pernah di fase itu sih. Suatu hari, gua lagi duduk-duduk di kampus sambil mainin gitar orang, entah gitar siapa. Salah sendiri ditaro di situ. Kebetulan juga hari itu lagi banyak maba yang lagi nanya-nanya sama seniornya soal kehidupan kampus. Tw-tw namanya kalo di teknik. Tampar wajah-tampar wajah, jadi abis nanya2 kehidupan kampus kita saling tampar wajah untuk menunjukkan persahabatan antara senior dan junior. Gadeng. Transfer wawasan yang bener. Yaa mirip-mirip transfer uang di ATM lah. Sama-sama transfer, cuma bedanya ini ga ada uangnya sama ga ada ATMnya. Jadi sebenernya gak mirip. Jangan bakar saya. Nah, balik lagi, ketika gua lagi mengosong sambil main lagu Desembernya ERK. Satu maba tiba-tiba dateng dan nanya "Desember ya kak?", lalu gua jawab "Bukan dek ini bulan Oktober" dan kita saling tampar. Ngaco. Yaa intinya dia tau lagu yang gua mainin dan abis itu kita ngobrol2 dan pada akhirnya dia merekomendasikan satu band ke gua : Sore.

Setelah gua cari-cari tau lagunya ternyata sore ini udah banyak sepak terjangnya, dan bagus-bagus banget lagunya. Dan udah dari dulu ada di belantika musik indonesia(gua selalu pengen pake kata-kata ini). Lagi-lagi gua ketinggalan band bagus di Indonesia. Dari sekian banyak lagu Sore, gua menemukan lagu "Setengah Lima" :

Suara bisikan hanyut 
Dalam pengikis bunga layu
Sampai aku akhirnya merasakan
 
Mati suri di taman  

Mati suri di taman 
Mati suri di taman
Mati suri di taman
 
Biarkan rasaku yang menggarang 

Menjamah sedu ayu meluangkan waktumu 
Dan kau suka
 
Mati suri di taman 

Mati suri di taman 
Mati suri di taman
Mati suri di taman

Gua suka banget pengulangan kata mati suri di taman. Mati suri, fenomena mati gak jadi. Selalu jadi kontroversi. Di KBBI sendiri mati suri berarti tampaknya mati, tapi sebenarnya tidak. Yang selalu terbayang sama gua saat denger lagu ini adalah suasana jam setengah lima sore, jam di mana hampir semua orang lelah, jam capek, orang kantoran yang habis kerja seharian, anak kecil yang habis main bola di lapangan dari siang, ibu-ibu penjual peyek yang habis keliling berkilo-kilo. Menemukan sebuah bangku di taman, lalu memutuskan untuk istirahat sejenak. Terlelap, menghilangkan kegetiran dan melupakan lelah, sejenak. Seperti mati, nyatanya tidak. Hanya terlelap meninggalkan dunia, sementara, tentu saja.

Gua sendiri gak tau maksud sebenernya dari lagu ini. Tapi yang pasti lagu ini selalu membuat gua tenang, membuat gua mengingat banyak orang yang lebih capek dari gua, dan capeknya gua bukan apa-apa. Membuat gua mati suri sejenak, dan melanjutkan hidup seterusnya. 

9/24/15

Naif

Inginnya seperti persamaan linear
Berjalan lurus saja, datar
Tak sulit untuk diterka
Bukan masalah untuk direka

Sayang semua seperti persamaan polinomial
Pangkat tiga, empat, bahkan lima
Ah, atau mungkin eksponensial ? 
Sukar diterka, sulit direka

Andai semua bisa dilinearisasi
Tak ada lagi yang berliku sana sini
Yang bisa naik tiba-tiba
Tapi turun sampai negatif seenaknya

Andai semua bisa diterima logika
Bisa dikomputasi dengan elektronika
Bisa dihitung dengan matematika
Asyik Juga.