2/5/19

Clueless

Gua sering takut kalau masuk ke restoran dari kecil.  Ketakutan yang sampai sekarang pun masih ada setiap masuk restoran sendirian.

Kenapa? Karena gua gapernah tau cara pelayanan di restoran itu gimana; langsung duduk terus panggil pelayannya? mesen dulu di counter? atau ambil sendiri makanannya? Gua takut salah mengambil keputusan, ditambah juga kecanggungan sosial gua waktu mesen makanan. Lengkap sudah.

Pernah waktu itu gua nunggu 30 menit gara2 gua kira bakal dibawain menu ke meja padahal ternyata pelayanannya counter service. Oke. Gapapa. Masih bisa diselamatkan, honest mistake, semua orang pernah begini. Langsunglah gua pesen ke counternya. "Mi aceh satu mbak". Mantap, gapapalah malu dikit duduk setengah jam pelanga pelongo doang. Yang penting bisa makan.

"Pedes apa engga mas?" mbaknya nanya. Gua gapernah kuat makan mi aceh pedes di sini, makanya gua selalu pesen yang ga pedes. "iya mbak" jawab gua. Tunggu sebentar. Otak gua baru memproses apa yang gua bilang. Fak. Kenapa gua bilang iya?? Masa harus bilang gajadi pedes? Malu ah, keliata lemah banget gua. Tapi kalo kepedesan juga ga bakal bisa gua makan. Tapi malu, udah salah, duduk 30 menit pelanga pelongo doang, masa mesen juga ga becus?

Oke, gapapa, biarin deh pedes, gua take away aja biar nanti tukeran sama temen gua yang suka pedes. Brilian. Gua ga harus malu2in diri lagi makan di sini. Aman. Take away. Sikat.

"Makan di sini mas?"

"iya"

Siang itu adalah siang terpanjang dan terpedas dalam hidup gua.

12/16/18

Semoga yang dimungkinkan

Pada pojok ingatan terdalam
Buku usang, gersang
Lembar demi lembarnya menguning
Diam-diam dalam kelam
Draf-draf kosong
Ide-ide buram
Kegelisahan tak tertulis
Manusia yang tidak peduli, mungkin.

Halo, apa kabar?
Ternyata sudah hampir 3 tahun tidak berkunjung. Beberapa tahun ini memang banyak hal yang terjadi, banyak yang seharusnya tertulis di sini. Sayang belum terjadi. 

Mungkin perlu waktu untuk mengingat lagi semua hal yang terjadi beberapa tahun belakangan; Akhir kuliah, skripsi, sidang, wisuda, pelepasan, pekerjaan, dan banyak peristiwa diantara itu semua. Semoga ingatan gua masih sanggup mengambil lagi semua detail dari ujung-ujung terjauh neuron otak. 

Dulu gua pernah berhipotesa, usia mempengaruhi jumlah tulisan. Ya ternyata hal itu benar. Paling tidak untuk gua. Hal itu bener-bener gua rasakan sejak akhir kuliah. Kesibukan yang bertambah berjalan linier dengan waktu yang perlu dialokasikan. Saat ada waktu kosong, waktu itu selalu gua gunakan untuk istirahat. Bahkan waktu untuk main game gua juga sudah jauh berkurang sekarang. Mungkin ada benarnya juga gambar ini:

Tapi mungkin juga gua cuma menghindar dari kenyataan lain. Mungkin memang gua ga ada kemauan sendiri untuk nulis lagi, dengan menggunakan kesibukan sebagai pemanisnya. Mungkin gua terlalu terfokus pada apa yang harus gua kerjakan, mengesampingkan semua yang opsional, yang tidak penting, yang tidak signifikan. Mungkin menulis blog bagi gua sudah tidak relevan lagi, kuno. Mungkin.

Entahlah apa yang menjadi alasan utamanya, mungkin akumulasi semua alasan itu-lah yang jadi alasan utamanya. Mungkin ini yang orang-orang sebut writer's block. Kondisi penulis yang tidak bisa menulis lagi, kehilangan ide, kemauan, dan alasan. Mungkin.

Yang jelas gua selalu senang bisa klik kotak oranye dengan kata publish di atas layar gua setelah menulis apapun. Gua selalu senang bisa denger ada orang baru lagi yang baca blog ini. Rasanya menyenangkan bisa tau ada orang lain yang baca cerita-cerita bodoh gua. Semoga tulisan ini dan selanjut-selanjutnya tidak cuma menjadi draf-draf yang menunggu dihapus. Semoga semakin banyak lagi alasan-alasan lain untuk menulis. Semoga ini menghilangkan semua mungkin-mungkin. Semoga.

2/18/16

Kersos kemarin

Cuma sempat foto sedikit.

Rumah,

Keluarga yang gua tinggalin rumahnya baik banget, tiap malem dibikinin ketan yang dikepel mirip onigiri, Nothing special, tapi rasanya men, bikin kelepek-kelepek. Sayang lupa gua foto makanannya, sibuk mengunyah sepertinya. Rumahnya sederhana, tapi nyamannya luar biasa. Hampir gua mangkir kerja proyek gara2 keenakan di rumah. Rumah ini ada kakek, nenek, teteh, sama 2 anak kecil. Yang bisa bahasa indonesia cuma teteh, cukup lucu harus bicara lewat penerjemah ke orang indonesia juga. Ada TV kecil, kalo hujan sinyalnya jelek, jadi gabisa nonton. Ada kamar belajar, dindingnya bambunya penuh gambar-gambar dan tulisan alfabet. Ada kompor, tapi nenek lebih suka pake kayu bakar. takut kalo pake LPG katanya. Tidak ada toilet, begitulah adanya



Pedesaan,

Jalanannya masih tanah, jadi kalo habis hujan tanah nempel semua di alas kaki. Licinnya luar biasa, bisa main ice skating, tapi di tanah. Land skating........you get the idea. Bahkan waktu kersos kemarin ada mainan, siapa yang bisa jatoh paling sedikit dari rumah ke lapangan menang dan dibeliin jasjus. Pemandangan anak teknik kepeleset menjadi hal yang lumrah di sana. Sayang gua gak sempet moto mereka, gua juga kepeleset soalnya. Di sini, orang pasirhaur(nama desa ini) makan dari hasil tani mereka sendiri, Nasi pasirhaur lebih keras dan kenyal, tapi tetap enak.




Lapangan,

Tempat kumpul, tempat tenda panitia, tempat senam sebelum proyek, tempat pembagian pyoyek, tempat main bola sama anak2, tempat beli jasjus. di sampingnya ada SD. Pernah waktu itu hujan deras, gua dan mentor lain lagi eval dan ngambil beras sama telur buat makan malam di tenda panitia di tengah lapangan. Pancang tendanya lepas. tendanya hampir keangkat. Semua panik, mirip salah satu scene di resident evil, cuma ga ada zombienya. Sayang gasempet moto, sibuk masangin lagi pancang tendanya. Mentor balik ke rumah setelah itu, ujan2an karena takut menteenya kelaperan. Lari-lari, sambil kepeleset pastinya.




Hujan,

Lumayan deras, padahal kata teteh di sana jarang hujan sederas itu. Kalo hujan biasanya cuma duduk di luar, sambil ngobrol ngelantur sama tetangga sebelah. Atau makan ketan sama singkong. Gua selalu suka duduk di luar kalo lagi hujan, nyaman banget, somewhat relaxing. Yang pusing itu kalo mau ke kamar mandi, jalan kemana-mana kepeleset, toilet terdekat ga ada atapnya, toilet yang ada atapnya jauh di atas, harus naik lagi, harus kepeleset lagi.

 



Kelompok,

Ada 1 lagi mentornya, anak elektro 2013, om panggilannya, saya juga tidak tahu kenapa. Sisanya anak sipil, elektro, dan metal. Masing masing punya sifat yang berbeda dan hampir bertolak belakang, lucu juga liat mereka di satu rumah. Mungkin kalo di kampus mereka gak akan kenal satu-sama lain. Si om hobi banget tidur. Pernah hampir telat senam gara2 si om ketiduran. Untung gak mimpin senam kaya tahun sebelumnya.


DTK,

Cukup ramai kalo dibandingin sama beberapa departemen lain, membanggakan. Semoga kedepannya tekim jadi yang paling banyak peserta dan mentornya.


Tahun ini mungkin gua gak bisa ikut kersos lagi, tapi siapa yang tau. Selalu ada kejutan setiap harinya. Semoga saja